Thursday, December 1, 2016

Candi Sukuh : Miniatur Chicen Itza?


Berawal dari seringnya melihat berita atau artikel dari televisi dan media sosial yang mengatakan bahwa terdapat candi di sebuah desa di Kabupaten Karanganyar yang mirip dengan situs atau piramida peninggalan suku Maya di Meksiko yaitu Chicen Itza, membuat saya penasaran apakah benar memang ada dan mirip? Akhirnya, pada awal tahun 2016 saya dan Lulul memutuskan untuk memastikannya sekaligus jalan-jalan.

Kami berangkat dari Kota Solo dengan menggunakan sepeda motor. Jalanan saat itu sangat ramai sekali karena bertepatan dengan libur tahun baru. Seperti yang kami duga, perjalanan ke Kabupaten Karanganyar ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang yang mungkin juga sedang menikmati liburan di Karanganyar. Memasuki Kecamatan Ngargoyoso, jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Selain ke Candi Sukuh, kami juga berencana mengunjungi Candi Ceto yang masih berada di satu kawasan (hanya berbeda arah).

Setelah perjalanan kurang lebih selama satu jam, akhirnya kami tiba di kompleks Candi Sukuh yang ternyata sudah cukup ramai pengunjung. Candi Sukuh terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi Sukuh dijuluki sebagai The Last Temple karena candi ini diperkirakan sebagai candi terakhir yang dibangun sebelum memudarnya kekuatan kerajaan hindu Majapahit di Nusantara. Selain itu kabarnya Candi Sukuh merupakan salah satu candi yang paling menarik di Asia Tenggara.


Berada di lereng barat Gunung Lawu membuat udara di kompleks Candi Sukuh terasa sejuk. Ditambah dengan dominasi warna hijau membuat mata yang memandang menjadi segar. Dari lokasi Candi Sukuh ini, pengunjung dapat melihat pemandangan Kabupaten Karanganyar dari atas.

Sebelum masuk ke area Candi Sukuh kita diwajibkan membayar tiket atau retribusi dan menggunakan kain bermotif kotak-kotak berwarna hitam putih yang telah disediakan gratis oleh pengelola candi. Jadi kita hanya mengeluarkan biaya tiket dan biaya parkir saja. Secara struktur, Candi Sukuh memiliki tiga teras. Di area pintu masuk kita akan menemui papan informasi mengenai Candi Sukuh.



Memasuki teras pertama terdapat gapura utama dari kompleks Candi Sukuh. Di kedua bagian gapura (kiri dan kanan) terdapat sengkala memet. Sengkala memet adalah angka tahun yang disimbolkan dengan gambar atau benda. Lorong gapura utama diberi pagar sehingga kita harus memutar melalui jalan lain yang telah dibuat untuk melalui gerbang utama tersebut. Naik ke atas, di teras kedua terdapat bangunan gapura yang sudah rusak atau tidak sempurna. Di teras satu dan dua terdapat lahan rerumputan hijau yang luas di sebelah kiri dan kanan sepanjang jalan menuju candi utama. Lahan rerumputan ini cocok digunakan untuk duduk beristirahat dan juga untuk berfoto-foto. Banyak pasangan muda yang memanfaatkan lokasi ini. Ehm, tapi kami tidak termasuk kok. Kami memilih tempat lain saja.


Beranjak ke teras ketiga yang merupakan bagian teratas dan tempat candi utama berada. Lokasi yang menjadi landmark wisata Candi Sukuh tersebut, namun sayangnya saat kami naik untuk melihat candi tersebut ternyata candinya sedang direnovasi atau dilakukan pemugaran. Menurut informasi dari tukang foto keliling, candi utama tersebut akan diperkuat agar dapat dinaiki oleh lebih banyak pengunjung. Akhirnya kami memutuskan untuk berkeliling melihat-lihatnya saja. Di teras ketiga, selain ada candi utama, terdapat juga panel-panel berelief dan patung-patung yang sebagian sudah tidak sempurna bentuknya.




Terlalu asik menikmati pemandangan dan suasana yang sejuk kami sampai tidak memperhatikan detail-detail relief dari setiap patung, panel dan bangunan yang ada. Ternyata relief-relief di Candi Sukuh cukup erotis karena ciri khasnya adalah ornamen lingga dan yoni. Candi Sukuh juga terkenal dengan mitos tes keperawanan atau kesetiaan. Tes tersebut dilakukan dengan melangkahi atau melewati sebuah relief yang terukir di lantai lorong gapura utama. Apa karna alasan ini sehingga lorong gapura utama Candi Sukuh diberi pagar?



Mitos, misteri dan ciri khas inilah yang membuatnya unik dan menarik sehingga banyak pengunjung tertarik untuk melihat Candi Sukuh. Walaupun kecewa karena ternyata bangunan utama Candi Sukuh sedang dilakukan pemugaran sehingga kami tidak dapat membandingkan dengan Chicen Itza tapi kami tetap merasa senang dengan menikmati bangunan lainnya serta patung-patung yang dapat dinikmati dengan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.

Jadi apakah Candi Sukuh dan Chicen Itza mirip? Secara bentuk mungkin iya, karena kami tidak melihat Candi Sukuh secara utuh dan belum pernah melihat Chicen Itza secara langsung, hehe. Tapi yang pasti jika dilihat dari foto-foto dan gambar-gambar yang ada  ukuran Candi Sukuh tentu lebih kecil dibandingkan Chicen Itza dan juga sedikit berbeda dibagian atasnya. bagaimana menurut kalian?



No comments:

Post a Comment