Saturday, May 21, 2016

Dua Destinasi dalam Satu Hari: Museum Kereta Api Ambarawa dan Candi Gedong Songo


Tahun 2016 ini banyak sekali hari libur atau tanggal merah yang berdekatan dengan akhir pekan, alhasil banyak long weekend yang menjadi kesenangan bagi yang sudah bekerja. Untuk itu, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan liburan untuk me-refresh pikiran dan kejenuhan saya. Walaupun ada libur tiga hari tetapi saya hanya pergi berlibur selama sehari, dua hari sisanya untuk istirahat setelah liburan sebelum kembali masuk kantor di hari berikutnya. Destinasi liburan kali ini cukup yang dekat-dekat saja yaitu ke Museum Kereta Api Ambarawa dan Candi Gedong Songo Bandungan. Bagi saya, jauh atau dekat tidak masalah, yang penting judulnya jalan-jalan dan membuat hati senang.


Museum Kereta Api Ambarawa


Dahulunya, merupakan ruang tunggu stasiun.

Sangat mudah untuk mencapai Museum Kereta Api Ambarawa dari arah utara. Dari Semarang ikuti saja jalan utama sampai bertemu Terminal Bawen kemudian ambil arah kanan. Dari situ ikuti saja jalan menuju arah Kampung Rawa, kita akan disuguhi pemandangan Rawa Pening yang bisa dilihat dari pinggir jalan. Museum Kereta Api Ambarawa terletak di tepi jalan raya dekat dengan Lapangan Panglima Besar Jendral Soedirman.

Memasuki kawasan museum, terlebih dahulu pengunjung akan diberi karcis untuk parkir kendaraan. Modernnya, karcis parkir disini tidak menggunakan tulisan tangan atau manual tetapi sudah menggunakan mesin, seperti di gerbang tol. Berbeda jika dibandingkan dengan tempat-tempat wisata lainnya yang pernah saya kunjungi yang masih menggunakan karcis dengan tulisan tangan atau bahkan tanpa tulisan nomor kendaraan kita pada karcis. Tarif parkir sepertinya disesuaikan dengan lamanya waktu parkir seperti di mall sehingga pengunjung membayar saat mau keluar dari museum. Untuk harga tiket masuk ke museum adalah Rp 10.000,00. Bagi pengunjung yang ingin naik kereta dari Ambarawa sampai Tuntang dengan melewati Rawa Pening bisa membeli tiket di loket seharga Rp 50.000,00. Dalam sehari ada tiga kali perjalanan kereta yaitu pukul 11.00, 13.00, dan 14.00 (kalau tidak salah lihat, hehe).


Tulisan sejarah per-kereta api-an di Indonesia.

Di dalam museum, pengunjung akan disuguhi sejarah perkeretaapian Indonesia yang dipasang besar di dinding sehingga mudah untuk dibaca satu per satu. Namun, saking panjang cerita sejarahnya, saya sendiri tidak membaca seluruh isinya. Selain itu, ada banyak kereta tua yang diparkir di rel yang sudah tidak berfungsi dan menjadi daya tarik dari museum kereta api ini. Tentu saja bisa dinaiki untuk berfoto-foto.


Loket tiket kereta api.

Rel yang sudah tidak terpakai lagi.


Salah satu penampakan kereta uap tua.

Pose dulu, yuk !

Puas berfoto-foto dengan kereta api tua, saya dan teman-teman kembali melanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya yaitu Candi Gedong Songo di kawasan Bandungan. Perjalanan yang kami tempuh dari Ambarawa ke Bandungan selama kurang lebih satu jam. Karena jam sudah siang dan perut minta diisi, maka sebelum sampai di lokasi kami mampir makan dan sholat dulu di daerah Jimbaran dekat jalur ke Umbul Sidomukti dan basecamp pendakian Gunung Ungaran.

Candi Gedong Songo



Sampai di kawasan kompleks Candi Gedong Songo pengunjung dikenakan tiket masuk seharga Rp 7.500,00 per orang. Untuk menuju candi, pengunjung harus siap-siap berjalan melewati jalan yang menanjak karena candi-candi ini memang terletak di lereng Gunung Ungaran. Jarak antara candi satu dengan yang lainnya bervariasi, tetapi yang paling jauh adalah jarak dari Candi I ke Candi II. Letak Candi I dekat dengan gerbang masuk sehingga banyak dijumpai pedagang souvenir maupun warung makanan di sekitarnya.

Candi I

Tanjakan pertama menuju Candi II

Kalau tidak mau capek jalan kaki, pengunjung bisa naik kuda dengan tarif sewa mulai dari Rp 40.000,00 - Rp 70.000,00 tergantung keinginan mau sampai candi keberapa. Kalo saya lebih memilih jalan kaki karena bisa menikmati pemandangan khas pegunungan seperti pohon pinus dan cemara dengan puas sekaligus olahraga (sudah biasa naik gunung jadi tidak masalah). Dari bawah (Candi I), jalur kuda dan pengunjung yang jalan kaki dipisahkan. Tapi sebelum sampai di Candi II jalur digabung menjadi satu sehingga menimbulkan sedikit ketidaknyamanan. Bukan karena takut sama kuda, tapi banyak kotoran kuda yang berserakan dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Kasian pengunjung yang jalan kaki termasuk saya. Menurut pengamatan saya, semakin ke atas kasian juga sama si kuda, menahan bebannya sendiri aja sudah berat apalagi ditambah beban penumpangnya. Pukpuk si kuda. Di sepanjang jalur Candi I menuju Candi II ada wahana untuk permainan jaring-jaring. Tapi pada saat lewat, wahananya sepi tidak ada yang menjaga atau mungkin sudah tidak digunakan lagi.

Permainan jaring-jaring yang (mungkin) tidak berfungsi lagi.

Capek? Naik kuda saja ...

Jarak Candi II dan Candi III dekat, jadi bikin semangat buat lanjut jalan ke candi berikutnya apalagi untuk orang yang tidak terbiasa jalan kaki di tanjakan. Meskipun sedikit lelah, jangan melewatkan untuk berfoto-foto bersama candi atau sekedar mengabadikan pemandangan yang ada. Karena bagaimanapun candi merupakan bangunan bersejarah yang harus kita lestarikan.

Candi II

Candi III

Dari Candi III ke Candi IV jalan mulai menurun dan akan melewati kawah belerang. Di kawasan ini terdapat pemandian air panas yang bisa dicoba. Harga tiket kolam air panas Rp 5.000,00. Berhubung saya tidak membawa baju ganti, jadi saya tidak mencoba air panas tersebut meskipun sebenarnya ingin mencobanya.

Kolam pemandian air panas di dekat belerang.

Setelah melewati kawah jalur menuju candi berikutnya mulai kembali naik. Di jalur ini, bau kotoran kuda semakin menyengat dan semakin membuat tidak nyaman. Berkali-kali saya harus menutup hidung karena tidak tahan.

Candi IV

Sampai di Candi IV suasana semakin sepi tidak seramai candi-candi sebelumnya. Mungkin banyak yang malas meneruskan perjalanan ke atas karena kecapekan. Jarak Candi IV dan Candi V berdekatan, hanya dipisahkan dengan sebidang tanah lapang untuk beristirahat si kuda. Setelah Candi V? Sudah selesai!

Candi V

Lho, kok cuma lima saja candinya, katanya Candi Gedong Songo? Harusnya ada sembilan candi dong. Menurut cerita yang saya dengar, candi sisanya tersebut tidak terlihat secara kasat mata atau candi gaib. Hayoo siapa yang bisa melihat candi sisanya tersebut? Bisa lho berbagi cerita di kolom komentar.

Perjalanan turun ke bawah memakan waktu lebih cepat karena kondisi jalan yang menurun. Tapi meskipun begitu, pengunjung tetap diharapkan untuk berhati-hati karena terkadang terdapat jalan yang licin. Kalau tidak hati-hati bisa jatuh terpeleset.

Di kompleks wisata Candi Gedong Songo ini terkenal dengan mendoannya. Karena penasaran saya pun mencobanya dan rasanya ternyata sama saja seperti mendoan-mendoan pada umumnya. Bedanya disini bahan sayuran mendoannya ditambah dengan irisan wortel. Harganya Rp 1.000,00 per biji. Bisa juga mencoba sate kelinci seperti makanan khas di dataran tinggi Tawangmangu.

Sate kelinci dan mendoan Gedong Songo.

Menikmati dua destinasi (Museum Kereta Api Ambarawa dan Candi Gedong Songo) dalam satu hari sudah menyenangkan hati. Jadi sebenarnya untuk berlibur, kita tidak perlu menunggu datangnya long weekend. Kalau satu hari kita dapat mengunjungi dua tempat sekaligus maka di akhir pekan biasa pun kita dapat berlibur, sehari berlibur dan sehari untuk beristirahat. Tinggal bagaimana kalian mengatur waktu dan lokasi yang tidak terlalu jauh sehingga waktu akan lebih banyak dihabiskan di tempat liburan dibandingkan di jalan. Bagaimana menurut kalian?

2 comments:

  1. antara Ungaran dan Groboggan ada kota lama Semarang.. kapan mampir kesini kabar2i ya.. titip http://sejarawan.id

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah pernah mampir ke Kota Lama Semarang (http://www.enjoyourtrips.com/2015/03/kota-lama-sekarang.html) tapi belum sempat eksplor lebih jauh.
      Pengen sih main ke sana lagi, belum puas.

      Delete