Sunday, April 24, 2016

MAMPIR MAKAN IGA DI BOYOLALI


Boyolali adalah sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Bagi saya yang tinggal di Kota Solo dan berkampung halaman di Semarang, tentu akan sering melewati kabupaten ini. Biasanya saya dan keluarga sering berhenti di Boyolali untuk mengisi perut. Banyak tempat makan yang kami datangi dan cicipi makanannya, tapi buat saya ada tempat makan yang membuat saya memiliki nafsu makan yang lebih. Iya karena menu utama tempat makan ini adalah iga. Iga adalah salah satu makanan favorit saya. Siapa yang tidak suka iga? Siapa yang tidak suka daging sapi? Kecuali vegetarian.

Di warung iga Pak Wid, tersedia berbagai macam menu olahan iga. Mulai dari iga bakar, iga goreng, iga rebus (sop iga), iga penyet dan iga gongso. Tidak hanya iga saja tapi juga ada menu olahan babat. Warung yang terletak di jalan Merapi Boyolali ini sering ramai, terutama saat jam makan. Bukan hanya makan siang tapi juga di waktu antara sarapan dan makan siang. Ditambah letaknya yang mudah dan strategis, di pinggir jalan utama dan berseberangan dengan ikon baru Kabupaten Boyolali, yaitu Patung Arjuna Wijaya. Maka tak heran kalau tempat makan ini sangat terkenal dan selalu ramai. Sayangnya tempat makan ini tidak begitu luas jadi kalau sedang ramai bisa tidak dapat tempat dan harus mengantri. Selain itu waktu penyajiannya yang lama membuat kita harus lebih sabar untuk mengisi perut.




Terkenal, letaknya strategis, dan makanannya daging. Pasti mahal. Pasti banyak yang berpikiran seperti itu, saya pun juga begitu saat pertama kali mencoba makan disini. Tapi ternyata tidak. Menurut saya, harga di warung iga ini masih tergolong murah jika dibandingkan harga menu iga di tempat makan lain. Harga di warung ini dibuat berdasarkan porsi, untuk semua menu iga dengan porsi kecil dihargai Rp 28.000,00 sedangkan porsi besar dihargai Rp 38.000,00 dan itu sudah termasuk nasi dengan porsi kecil. Begitu juga dengan menu babat, harga untuk babat porsi kecil Rp 20.000,00 dan porsi besar Rp 30.000,00. Dengan selisih hanya Rp 10.000,00 antara porsi besar dan porsi kecil membuat saya berpikir untuk pesan porsi besar sekalian.


Untuk rasa dengan harga segitu sudah dapat dikatakan enak. Hanya saja menurut saya untuk iga bakarnya kurang seasoning meskipun begitu makanan favorit saya di warung iga ini tetap iga bakar. Hal tersebut bisa diakali dengan menambah kecap yang tersedia di setiap meja. Saya sendiri tidak suka dengan lemak pada daging seperti gajih, tetapi lemak di iga bakar ini berbeda dan tidak ada bau atau rasa khas sapi yang menyengat. Saat digigit, lemak lumer di dalam mulut dan memberikan rasa tambahan pada daging yang membuatnya semakin nikmat dimakan.

Jika tak ingin repot maka pilihlah menu iga goreng atau iga gongso, karena menu iga ini disajikan terpotong-potong tanpa tulang jadi membuat makan lebih mudah. Iga gongso wajib dicoba karena menurut saya bumbu gongsonya lebih terasa dan cocok dengan daging iga.

Iga gongso, iga bakar dan iga penyet

Dengan rasa yang enak dan harga yang murah, menurut saya worth it jika harus menunggu lebih lama karena saya sendiri jarang sekali menemui menu iga dengan porsi besar ditambah harganya bersahabat. Siapa yang tidak suka makanan murah, porsi banyak, dan enak?

2 comments:

  1. anjir kebeneran gini lagi pengin makan daging liat postingan ini. errrrrrrrrrrrrrrrrrrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daging dibakar memang menggiurkan, hehe

      Delete