Friday, June 26, 2015

GUNUNG ANDONG, SI KECIL PENUH DRAMA (BAGIAN 2)


Setelah sebelumnya kami berhasil melewati drama dan dilema yang ada, mulai dari tak kunjung mendapatkan tenda, galau memilih keputusan camping atau trekking, sampai sewa tenda dobel yang ternyata salah satunya tidak terpakai dan membuat tas saya menjadi berat, ternyata masih banyak kejutan yang terjadi setelahnya. Kejutan apa saja itu? Enjoyourtrips!

Pos 1 – Camp


Melanjutkan perjalanan dari pos 1, pohon pinus masih terlihat di pinggir jalur pendakian. Tapi setelah sampai di batas pohon pinus, nyali pendaki akan diuji. Bagi yang tidak takut ketinggian tentu saja tidak menjadi masalah, tapi bagi orang yang takut ketinggian seperti Ega, keringat dingin bakal keluar. Keluar dari hutan pinus, jalan semakin mengecil menyerupai jalan setapak kurang dari satu meter (masih) bertanah licin, menanjak curam, dan hanya bisa dilalui satu orang saja. Kalau memang punya nyali kuat silahkan tengok kanan kiri karena pemandangan yang disajikan sangat indah. Kita bisa melihat pemandangan kota Magelang dari atas.

Pemandangan kota Magelang dari atas

Hari mulai gelap saat kami masih berada di tengah perjalanan melewati setapak demi setapak tanah pendakian. Kabut pun mulai berdatangan menyambut kedatangan kami yang artinya cuaca sedang mendung saat itu. Kami pun mulai disusul oleh pendaki-pendaki lain yang sebelumnya berada di belakang kami. Kami pun harus sedikit melipir untuk memberi jalan kepada mereka. Saya suka berjalan santai karena tujuan hiking selain untuk menggapai puncak adalah untuk menikmati setiap jengkal perjalanan. Bebas berhenti kapanpun kita mau.

Sesampai di tempat yang mulai ramai oleh tenda pendaki yang sudah berdiri, kami mulai mencari celah tempat untuk mendirikan tenda kami. Saya sedikit terhenyak, ternyata tempat camp yang dimaksud tidak seperti camp-camp di gunung lainnya yang punya tanah datar luas. Camp di Andong berupa sepetak tanah datar yang berjejer-jejer ke atas yang terletak di pinggir jalur pendakian dan pinggir jurang. Ngeri kan. Tapi mau gimana lagi, daripada tidak ada tempat, apalagi kami harus mendirikan dua tenda, akhirnya kami sepakat mendirikan tenda disitu. Jarak tempuh tempat camp kami dengan puncak nantinya kurang lebih 15 menit perjalanan.

Cuaca semakin malam semakin dingin yang membuat kami begitu selesai makan langsung beranjak untuk tidur. Jangan tanya apa makan malam kami, mie adalah makanan surga bagi para pendaki. Dan seperti biasa, malam itu saya susah tidur. Selain memang kebiasaan, juga dikarenakan terganggu suara langkah kaki para pendaki yang melewati tenda kami. Semakin malam semakin ramai. Ini tidak enaknya mendirikan tenda di pinggir jalan. Suara langkah “duk duk duk” sudah pasti terdengar jelas. Nikmati saja.

Detik-detik menjelang sunrise

Menjelang sunrise suasana di luar tenda ramai sekali. Ini gunung apa pasar sih? Banyak yang sudah menempatkan dirinya masing-masing untuk mendapatkan view yang terbaik (untuk berfoto dan selfie). Saya sendiri cukup duduk di sebelah tenda saja karena sunrise sudah terlihat sangat cantik dari sini. Terlihat siluet langit berwarna hitam oranye biru tua di ufuk timur. Perlahan-lahan matahari mulai menampakkan dirinya. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Alhamdulillah, pendakian kali ini mendapat bonus sunrise yang istimewa setelah sebelum-sebelumnya hanya sering menjumpai kabut. Dari dekat tampak Merbabu dan Merapi di sisi kanan sedang berdiri gagah serta Ungaran dan Telomoyo di sisi kiri. Sedangkan dari jauh terlihat Lawu menyapa dari kejauhan. Berganti arah, Sindoro, Sumbing, dan Prau pun turut menyapa kami. Sempurna!

What a beautiful sunrise it is!

Camp – Puncak


Puas menikmati sunrise, kami bergegas membereskan tenda untuk lanjut berjalan menuju ke puncak. Kami tidak sempat memasak karena kompor yang kami bawa rusak. Drama tentang tenda ternyata belum berakhir. Kami kehilangan pasak tenda! Maaaak, ini tenda sewaan mak! Yang bikin agak kesel kenapa yang hilang cuma sebiji doang? Kan nanggung nyarinya. Memang wajar kalau kami kehilangan pasak, pasalnya posisi pasak saat dipasang dan keesokan harinya posisinya berubah, lepas dari pengait. Itu terjadi karena angin yang bertiup semalam lumayan kencang, dengan kondisi alam terbuka tanpa pepohonan otomatis tenda kami ikut bergoyang. Untung goyangnya gak pake ngebor, pinggirnya kan jurang, kalo goyangnya keblabasan gimana? Setelah dicari-cari kemana-mana si pasak yang cuma sebiji doang itu tidak kunjung ketemu. Yaudah kami pasrah aja. Tapi ternyata kami beruntung, setelah semua barang selesai di-packing, si pasak ketemu dengan posisi tertimbun di dalam tanah. Langsung simpan di dalam tas! Dan jangan lupa, sampah juga dibawa turun.
 
Pukul 7 pagi kami mulai berjalan dan melewati banyak sekali tenda-tenda yang “berceceran” dan lautan manusia di sepanjang jalan yang sempit sampai-sampai kami harus sering melipir karena banyak tenda yang berdiri di atas jalur pendakian. Antara miris dan mau bagaimana lagi, karena medan Andong hanya berupa jalan setapak yang sempit dan penuhnya tempat camp membuat para pendaki tersebut mungkin terpaksa untuk mendirikan tenda disitu. Sebenarnya kan mengganggu jalan. Area ini yang dinamakan dengan Geger Sapi. Dinamakan Geger Sapi karena kalau dilihat dari jauh bentuknya menyerupai punggung sapi. Kalau dilihat-lihat, Geger Sapi ini mirip dengan Jembatan Setan-nya Merbabu.

Geger Sapi Andong, wajib dilalui sebelum ke puncak

Perjalanan kami untuk sampai ke puncak saat itu membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam dengan medan yang lumayan menanjak curam. Jika pendakian tidak membeludak, estimasi waktu perjalanan bisa lebih cepat dari itu, yaitu 15 menit. Mata saya tidak henti-hentinya melihat pemandangan di sepanjang jalan. Sejauh mata memandang ke berbagai arah, gunung-gunung gagah masih berdiri menyapa sehingga saya selalu berdecak kagum atas keindahan yang diciptakan oleh Sang Pencipta.

Selama di perjalanan, saya dan mungkin teman-teman yang lainnya, menahan hasrat untuk buang air kecil. Di sekitar camp tidak ada tempat tertutup yang bisa digunakan untuk bersembunyi. Jadilah sedari malam kami harus ngempet dengan harapan saat jalan ke puncak nanti menemukan “toilet”. Tapi, tetap sama saja, apalagi dengan suasana ramai seperti ini. Mau gak mau harus kembali menahannya sampai di bawah nanti. Ngenes?

Sampai di puncak, kami (masih) disuguhi membeludaknya pendaki Andong. Plang yang terbuat dari kayu yang digunakan sebagai penanda puncak pun menjadi rebutan untuk berfoto-foto. Mau foto di puncak aja harus antri, berasa kayak mau foto sama Mbak Syahrini saja. Yang membuat saya sedikit kaget adalah di puncak ada warung! Wow, saya merasa seperti di Lawu. Uniknya, warung disini menerima sumbangan makanan dan minuman. Mungkin bagi para pendaki yang stok logistiknya masih banyak dan malas membawa turun bisa disumbangkan disini. Selain warung makan ada juga yang menyediakan persewaan alat outdoor. Ini puncak men kenapa persewaannya gak di bawah aja? Pertanyaan saya yang lainnya adalah apakah warung ini buka setiap hari atau hanya jika pendakian ramai saja seperti sekarang?
 
Salah satu spot warung di puncak Andong

Ada pemandangan yang tak biasa saya dapatkan sewaktu di puncak, saya menjumpai sekeluarga terdiri dari bapak, ibu, dan 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil! Asiknya camping bersama di atas gunung bareng keluarga. Saya jadi berimajinasi, suatu saat nanti saya juga mau suasana liburan seperti mereka. Ehm.

Ini dia keluarga kompak itu. Pengeeen ......

Puncak – Basecamp


Jangan lupa foto di puncak! Hehehe

Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya sepi juga antrian foto di plang puncak. Tentu tidak kami sia-siakan karena kami juga pengen segera turun agar tidak kesorean sampai di bawah. Untuk jalur turun, kami memilih jalur yang berbeda dengan jalur naik kemarin. Pertimbangannya adalah daripada harus balik arah lagi mending lewat jalur turun langsung dari puncak yang sedikit lebih memutar. Selain itu, biar dapat sensasi dan pengalaman lain. Dengan lewat jalur yang berbeda ini, nantinya kami akan sampai di persimpangan jalan yang sudah saya ceritakan di atas. Oh iya, dari puncak turun sedikit ke arah kanan, ada puncak makam yang juga dipenuhi tenda para pendaki. Tapi, kami langsung ambil arah kiri untuk turun ke bawah. Agak menyesal juga sih kami tidak mampir kesana padahal jaraknya tidak begitu jauh. Saya penasaran seperti apa puncak makam tersebut. Apa ada makamnya beneran? Dan makan siapa yang ada di puncak gunung itu?
 
Puncak Makam yang terlihat dari Puncak Utama

Jalur turun yang kami lewati tidak se-ekstrim jalur naik meskipun tetap sama-sama di pinggir jurang. Bedanya dari atas sampai bawah jurangnya hanya ada di satu sisi saja, sedangkan sisi lainnya adalah tebing. Medan yang disuguhkan pun juga lebih enak, terdiri dari tanah dan batuan yang sudah tersusun rapi hanya saja tanah licin masih sering mendominasi. Tau gitu kemarin naik lewat sini saja. Jika lewat jalur ini, pendaki akan menjumpai mata air yang bisa dimanfaatkan untuk air minum atau sekedar cuci muka. Dan ada juga yang menggunakannya untuk mencuci botol bekas…. mungkin mereka sudah tidak bisa menahan lagi sehingga terpaksa pipis di botol. 

Saya juga sempat menjumpai segerombolan anak-anak muda, tebakan saya masih anak sekolah, yang sedang asik mencoret-coret batu dengan spidol. Mereka dengan asiknya dan tanpa merasa bersalah menuliskan sesuatu di batu tersebut. Pendaki macam apa ini?! Ingat semboyan yang harus dipegang oleh seorang pendaki, jangan mengambil sesuatu kecuali gambar, jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan membunuh sesuatu kecuali waktu.

Turunnya antri ya Mas, Mbak. Sabaaar ya .....

Cerita paling menarik selama pendakian ini yang membuat saya menggeleng-gelengkan kepala adalah turun aja juga pakai antri! Antrinya panjang pula. Karena jalan yang dilalui sempit membuat pendaki harus berjalan satu-satu. Bayangkan saja, sudah sempit, jalan satu-satu, antri pula. Sepertinya kesabaran selalu diuji selama di Andong. Dibalik itu, saya tersenyum kagum saat di jalan berpapasan dengan sekelompok anak kecil yang semangat naik ke atas, sepertinya penduduk lokal. Mereka kira-kira berumur 7 tahun dan 5 tahun. Sayangnya saya tidak sempat memotret mereka. Besok kalau sudah gede mau jadi apa dek? Pendaki Everest ya.

Setelah sampai di hutan pinus, jangan salah arah karena disitu ada dua jalur yang mengarahkan pendaki menuju basecamp Pendem dan basecamp Gogik. Tapi tenang saja, petunjuk arah sudah jelas. 2 jam berjalan turun dengan istirahat beberapa kali kami sampai juga di perkebunan warga, tanda bahwa kami sudah di bawah dan dekat dengan basecamp.

Dari bawah, mata saya kembali melihat ke atas, melihat Gunung Andong yang berdiri dengan anggunnya. Saya mencoba kembali merasakan perjalanan kami untuk bisa sampai di atas sana. Andong, bukan gunung besar tapi sebagian besar jalurnya lumayan bisa membuat siapapun yang mendakinya merasakan senam jantung, berjalan di atas jalan setapak yang dikelilingi jurang. Manusia terlihat sangat kecil dan tidak ada apa-apanya. Sembari merenungkan semua itu, tak terasa kami sudah sampai di basecamp. Selamat datang kembali! Hal yang paling bahagia saat menjadi hiker adalah ketika kita kembali dengan selamat.





1 comment:

  1. Joss om. Besok kalo udah berkeluarga bisa barengan ma saya om. Ahihihi...

    ReplyDelete