Thursday, June 11, 2015

GUNUNG ANDONG, SI KECIL PENUH DRAMA (BAGIAN 1)


Andong lagi ramai ya?
Andong lagi terkenal ya?
Andong lagi booming ya?
Sebenernya kayak apa sih gunung kecil di Magelang yang katanya bagus itu? Di foto orang-orang kok keliatan keren gitu.
Buat ngilangin penasaran yuk come on kesana aja.

Sebelumnya saya mau curhat sedikit, kalau boleh dikatakan pendakian ke Andong ini merupakan pendakian yang penuh dilema dan drama. Seperti liburan-liburan sebelumnya, saya bermaksud untuk tidak melewatkan keberadaan tanggal merah yang terbatas jumlahnya. Jadilah saya naik ke Andong bertepatan dengan libur (yang bagi sebagian orang) panjang tetapi tidak bagi saya karena Jumat masih harus masuk kerja. Dengan menerima segala resiko yang mungkin terjadi, saya memutuskan untuk berangkat hari Sabtu (yaelah kalo kayak gini mah gak usah nunggu tanggal merah juga bisa kali). 

H-1


Tim yang akan berangkat pada hari H, rencananya ada delapan orang termasuk saya dan pacar saya yang sebelumnya pernah saya ajak ke Merbabu (I AM BACK MERBABU). Sisanya adalah teman-teman saya. Berhubung naik pada hari libur, kejadian yang tak diinginkan pun terjadi. Kami keliling ke persewaan untuk menyewa peralatan outdoor yang paling utama yaitu tenda. Tapi hasilnya nihil. Semua tempat persewaan yang kami datangi memiliki satu jawaban yang sama, yaitu habis. Meskipun selalu mendapatkan jawaban yang sama, kami tidak menyerah dan tetap semangat untuk mendapatkan tenda. Tidak kehabisan akal, kami mulai mencari dengan cara online, mencari info persewaan alat di internet dan menemukan beberapa contact person yang bisa dihubungi. Setelah semuanya dihubungi baik telpon maupun sms hasilnya tetap saja sama, tenda sudah habis! Kurang drama apalagi coba. Padahal itu bukan hanya di wilayah Solo saja, sampai daerah Jogja, Magelang, Salatiga semuanya habis. Ya gini deh resiko naik gunung di hari libur panjang dan gak punya tenda sendiri.

"Bang, beliin tenda buat adek dong bang."

Akhirnya malam itu kami mulai menyerah dan memutuskan untuk istirahat dulu. Sebelumnya kami membuat opsi kedua, jika memang benar-benar tidak ada tenda, keputusannya adalah naik langsung turun tanpa nge-camp alias trekking.

Solo – Salatiga - Kopeng


Keesokan harinya, ada sedikit kabar baik kalau salah satu dari rombongan kami mendapat pinjaman tenda untuk kapasitas maksimal 3 orang. Sama aja bohong dong ya, trus yang lainnya nanti gimana. Akhirnya kabar baik menjadi kabar yang biasa saja bahkan sempat lupa kalau kami sudah mengantongi satu tenda kecil. Akhirnya kami tetap memilih menggunakan opsi kedua. Kabar selanjutnya datang ketika kami sudah fix akan melakukan opsi kedua, dua orang yang tadinya mau ikut membatalkan diri dengan alasan tidak bisa berangkat pagi karena posisi rumah mereka yang jauh.

Pukul 8 pagi kami sudah bersiap-siap berangkat dengan membawa perlengkapan yang dirasa cukup untuk setengah hari pendakian, hanya logistik dan baju ganti. Tetapi, sesaat sebelum keluar dari tempat kami berkumpul, ada sms masuk dari nomor yang semalam kami hubungi, dari persewaan tenda. How lucky we are! Masih ada satu tenda kapasitas 4-5 orang yang tersedia! Yang membuat bingung adalah itu persewaan lokasinya dimana karena kami tidak menyimpan nomor dengan detail. Alhasil setelah kami bertanya baru ketahuan kalau lokasinya ada di Salatiga. Tidak masalah karena nantinya kami juga lewat sana.Yang menjadi masalah adalah tenda kecil yang sudah didapat dibawa atau tidak karena yang membawa adalah teman yang rumahnya di Karanganyar, sedangkan dia sedang dalam perjalanan. Kalau tidak dibawa kan sama aja bohong lagi. Makanya kami belum berani untuk booking tenda besar yang ada di Salatiga tersebut. Masih penuh dengan drama dan dilema kan? Yaudahlah daripada bingung mending tetap pada keputusan terakhir.

Sembari menunggu kedatangan teman yang lainnya, kami sarapan dulu di daerah Kartasura. Selama sarapan, saya pribadi tidak bisa makan dengan tenang. Mau dibawa kemana perjalanan ini jadinya? Beberapa saat setelah sarapan, kami bertemu dengan teman yang sedari tadi ditunggu. Kami sempat berdiskusi sebentar yang akhirnya memutuskan bahwa kami jadi nge-camp! Kami berani mengambil keputusan ini karena ternyata pinjaman tenda kecil itu lokasinya ada di daerah kampus yang dekat dengan posisi kami saat itu dan tentu saja kami juga segera booking tenda besar yang berada di Salatiga. Mumpung belum berjalan terlalu jauh dan untuk menghemat waktu, akhirnya kami membagi tugas. Ada yang balik ke Solo untuk mengambil peralatan yang ditinggal (sleeping bag, matras, logistik, kompor, dsb), ada yang ke Salatiga untuk mengambil tenda. Saya dan Ega (selalu berduaaa… kayak Jin & Jun) kebagian untuk mengambil tenda dan nanti langsung ketemu yang lainnya di Pasar Sapi Salatiga.

Perjalanan Solo-Salatiga tidak membutuhkan waktu lama. Hanya saja Ega mengendarai motor dengan kecepatan 40 km/jam, kapan sampainyaaaaa? Sempat bete juga saya, apalagi nanti belum cari alamat persewaan tadi. 1,5 jam berjalan akhirnya sampai dan untungnya proses pencarian alamat berjalan lancar dan cepat. Saya tercengang setelah mengetahui harga sewa tenda tersebut, 40 ribu rupiah! Biasanya saya kalau sewa tenda cuma 25 ribu - 30 ribu rupiah saja, kok ini mahal amat ya. Yasudah deh daripada tidak dapat tenda.

Setelah ambil tenda, kami istirahat sebentar sembari menunggu teman-teman yang masih di Solo berangkat. Selama kami istirahat disitu, ada yang datang mengembalikan tenda. Akhirnya kami menyewa satu tenda lagi kapasitas 2 orang (yang ini usul dari si Ega). Alhasil, tas saya berisi dua tenda masing-masing kapasitas 2 dan 4 yang ternyata salah satunya nanti tidak terpakai. Mubadzir!

Menurut informasi dari internet, rute yang akan kami lalui nantinya melewati Pasar Sapi-Kopeng-Magelang. Tapi di tengah jalan tadi, saya melihat jalan pintas yang langsung menuju Kopeng. Saya kabari teman-teman yang masih di Solo agar lewat jalan pintas saja untuk menghemat waktu dan langsung bertemu di Kopeng saja.

Berjalan menyusuri jalan Kopeng-Magelang, saya sempat bingung. Sepertinya saya pernah lewat jalan ini dan ternyata benar, jalan basecamp Andong dekat dengan basecamp Merbabu via Wekas, sama-sama di jalan raya Kopeng-Magelang. Pantesan saja saya merasa pernah kesini. Setelah sampai di Pasar Ngablak yang terletak tepat di pinggir jalan raya Kopeng, saya menunggu kedatangan teman-teman yang lainnya. Sambil nunggu sambil mengisi perut.

Gerbang Pasar Ngablak, pintu masuk menuju Andong

Pukul 2 siang, akhirnya mereka datang. Setelah melengkapi perbekalan, kami mulai meluncur ke area basecamp. Sebelum meluncur, saya sempat didatangi orang yang menawari jasa antar kepada kami. Saya bilang saja kalau saya sudah tahu rutenya dan tidak perlu diantar. Usut punya usut ternyata untuk menuju puncak Andong ada tiga jalur yaitu jalur Pendem, Gogik, dan Sawit. Sepengamatan saya, antara ketiganya saling bersaing untuk mendapatkan calon pendaki Andong. Saya dan teman-teman lebih memilih melewati jalur Pendem yang saya ketahui dari internet dan memang sudah terkenal. Jarak antara jalan raya Kopeng sampai ke basecamp Pendem kurang lebih 10 menit dengan kondisi jalan yang bagus.

Basecamp Pendem – Pos 1



Nampang kece di basecamp dulu sebelum naik

Sampai di basecamp, motor sudah banyak berjejer di parkiran. Batin saya kayaknya bakalan ramai nih di atas gunung. Setelah bersiap-siap dan registrasi, kami memulai perjalanan naik. Mula-mula kami melewati perkebunan warga yang didominasi tanaman sayur-mayur. Memasuki kawasan hutan, tumbuhan yang banyak kami jumpai adalah pohon pinus. Jalan yang dilalui pun cukup menanjak yang terdiri dari tanah coklat sedikit licin. Untung saja sudah bukan musim hujan lagi. Kering aja licin apalagi kalau basah. Tanjakan demi tanjakan curam kami lalui, saya sendiri sedikit sempoyongan karena gendong carrier isi 2 tenda. Pertama kali dalam sejarah pendakian saya!

Tepuk tangan dong.

Prok prok prok... *suara tepuk tangan

Adek lelah bang .....

For your information, di gunung Andong ini, jalur pendakian dikelilingi oleh jurang. Hanya saja antara bagian bawah dan bagian atas ada sedikit perbedaan. Jika masih di bagian bawah, jurang hanya ada di salah satu sisi saja, sedangkan jika sudah sampai pertengahan jalan, jurang ada di kanan dan kiri. So, you must be careful!

Di tengah perjalanan kami menjumpai persimpangan jalan yang sama-sama mengarahkan ke arah puncak. Ada dua jalur yaitu jalur selatan dan utara yang masing-masing memiliki medan tidak sama. Untuk naik kami memilih jalur utara sedangkan turunnya nanti lewat jalur selatan. Setengah jam berjalan, kami sampai di pos 1 yang ditandai dengan tempat duduk memanjang yang terbuat dari kayu, seperti angkruk di depan rumah.

Pos 1 Gunung Andong

To be continued...




No comments:

Post a Comment