Saturday, February 21, 2015

KEMERIAHAN GREBEG SUDIRO 2015



Setiap tahun Indonesia selalu merayakan tahun baru Imlek, tidak hanya sekedar perayaan biasa-biasa saja namun perayaan yang sangat besar. Bisa dilihat dari banyaknya pernak-pernik tahun baru Imlek yang tidak hanya terpasang di Klenteng saja namun juga banyak terdapat di jalan-jalan di setiap sudut kota bahkan sampai ke dalam tempat-tempat perbelanjaan dan hiburan. Seperti yang kita tahu, tahun baru Imlek selalu identik dengan perayaan oleh agama atau etnis tertentu. Tapi dengan adanya pernak-pernik tahun baru Imlek dimana-mana, apakah kita masih menganggap kemeriahan tahun baru Imlek hanya milik satu etnis atau agama saja?

Di Kota Solo, ada satu cultural event yang memadukan antara budaya Tionghoa dan Jawa yang diselenggarakan setiap tahun menjelang tahun baru Imlek yang disebut Grebeg Sudiro. Tahun 2015 ini menjadi tahun ke-8 terselenggaranya acara ini sejak pertama kali pada tahun 2007 lalu.

Panas-panas tetep ramai euy...

Apa itu Grebeg Sudiro?

Grebeg Sudiro adalah perayaan perpaduan dari masyarakat Tionghoa dan Jawa. Tradisi Grebeg Sudiro diadakan untuk menunjukkan akulturasi antara warga Tiongkok peranakan yang sudah sejak puluhan tahun menetap di kawasan Sudiroprajan dan hidup berdampingan dengan masyarakat Jawa, bahkan kedua etnis ini menciptakan generasi baru melalui perkawinan campuran. Grebeg sendiri merupakan tradisi khas masyarakat Jawa untuk menyambut hari-hari khusus, seperti Maulid Nabi, Syawal, Idul Adha, dan lainnya. Pada puncak perayaan, masyarakat akan memperebutkan hasil bumi, makanan, sayur, buah, dan lain-lain yang disusun membentuk gunung. Sedangkan dalam Grebeg Sudiro yang diperebutkan adalah makanan-makanan khas Tionghoa dalam menyambut tahun baru Imlek, seperti kue keranjang.

Susunan kue keranjang yang akan diarak keliling kawasan Sudiroprajan

Kue-kue keranjang siap diarak dan akan diperebutkan nantinya

Sebelumnya, makanan-makanan tersebut akan dibawa ke Klenteng Tien Kok Sie untuk didoakan, kemudian makanan-makanan tersebut akan diarak di kawasan Sudiroprajan diikuti pawai dari kesenian Tionghoa dan Jawa. Beragam kesenian ikut berpartisipasi dalam pawai ini, diantaranya barongsai, pakaian tradisional, tarian tradisional, adat keraton, paskibra, sampai kesenian kontemporer. Arak-arakan akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie di depan Pasar Gedhe dan diakhiri dengan rebutan kue keranjang dan makanan lainnya.

Suasana klenteng Tien Kok Sie

Paskibra dari SMA Negeri 3 Surakarta ikut berpartisipasi dalam acara Grebeg Sudiro 2015

Marching band TNI AD. Kereeen...

TNI AD punya naga lho, namanya naga doreng!

Teko merah raksasa yang sedang diarak

Peserta arak-arakan dari Solo Batik Carnival, btw itu baju berat banget! Sekitar 20kg.

Tapi kenapa harus rebutan? Kenapa disusun membentuk gunung?

Semua itu memiliki arti masing-masing berdasarkan falsafah Jawa. Tradisi rebutan memiliki arti jika tidak berusaha tidak makan. Ini mengajarkan kita bahwa jika ingin makan kita harus berusaha dan bersaing dengan orang lain. Tapi sekarang ada yang tidak harus berusaha sudah bisa makan. Hanya duduk diam dan menengadahkan tangan saja bisa makan. Eh, itu termasuk berusaha bukan ya? Sedangkan tradisi gunungan atau susunan membentuk gunung memiliki arti rasa syukur pada Sang Pencipta.

Kue-kue yang disusun membentuk gunung

Tumpukan buah-buahan yang menggunung didominasi buah jeruk

Dalam Grebeg Sudiro semua masyarakat tumpah ruah meramaikan acara, dari berbagai macam usia, profesi, hingga berbagai macam etnis ikut berpartisipasi dan meramaikan acara ini. Tidak ada perbedaan, semua melebur menjadi satu dan menikmati kemeriahan acara. Masih adakah yang bilang bahwa perayaan tahun baru Imlek hanya milik satu etnis saja? Bayangkan jika dalam kehidupan sehari-hari semua orang memiliki rasa toleransi seperti ini, bukankah hidup akan lebih tenang dan damai?

Keramaian acara Grebeg Sudiro 2015. Duh ada yang gandengan tangan. Saya juga pengen gandengan, hiks.

Yang membuat Grebeg Sudiro tahun 2015 ini semakin spesial adalah kehadiran Menteri Pariwisata, Arief Yahya. Dalam rangka mempromosikan pariwisata Indonesia melalui event #ImlekNusantara, Solo menjadi satu-satunya kota yang didatangi oleh Menteri Pariwisata. Dalam sambutan yang disampaikan oleh Menteri Arif Yahya, pariwisata Kota Solo layak untuk dipasarkan secara nasional bahkan internasional karena Kota Solo berani menyelenggarakan 62 event dan menjadi satu-satunya kota dengan penyelenggaraan event terbanyak dalam satu tahun. Beliau juga mengakui hebatnya masyarakat Solo dalam menyelenggarakan berbagai macam event sekaligus mendukung pariwisata lokal yang berdampak pada meningkatnya jumlah wisatawan di Solo, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Oleh karena itu, Menteri Pariwisata mengajukan Solo sebagai Kota Kreatif ke UNESCO dan akan memberikan bantuan serta mempromosikan Kota Solo.

Menteri Pariwisata Arief Yahya membuka arak-arakan Grebeg Sudiro 2015

Salah satu bentuk bantuan, beliau akan memberikan dana untuk acara Grebeg Sudiro tahun depan. Dan untuk mempromosikan Kota Solo, Menteri Pariwisata menggandeng beberapa orang yang ahli dan dikenal akan prestasinya tidak hanya di Indonesia bahkan sampai luar negeri. Mereka adalah @konservatif, @niseng, @trinitytraveler, @catperku, @travellerkaskus, @aMrazing, @OmAbdi, @puanindya, @Rianassaaf, @madalkatiri, @munindohoy, @jovitaayu, @ferryrusli dan @indtravel yang tergabung dalam tim #ImlekNusantara. Tentu orang-orang ini sudah tidak asing bagi para traveler ataupun penikmat socmed dan dunia maya. Mereka inilah yang dipercaya untuk mempromosikan Kota Solo dan menarik wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia terutama Solo.

Hayoo pada tau nggak ini siapa aja? hehe

Ada yang bisa nebak ada siapa aja di foto ini dari tim #ImlekNusantara? hehe

Kapan ya @enjoyourtrips bisa diajak Menteri Pariwisata juga? hehehe

No comments:

Post a Comment