Friday, December 12, 2014

I AM BACK, MERBABU!




Untuk kedua kalinya, mendaki ke Gunung Merbabu. Sebenarnya bagi saya secara pribadi kalo sudah pernah naik satu gunung, pengennya cukup sekali aja trus gantian buat nyoba naik gunung-gunung yang lainnya yang belum pernah didaki. Tapi untuk naik ke gunung yang sama, juga tidak menjadi masalah yang penting pengalaman selama perjalanannya bisa dinikmati dan itung-itung untuk mengobati kerinduan saya pada ketinggian.

Tanggal 11 Oktober 2014, tepatnya hari Sabtu, saya dan rombongan berencana untuk naik ke Merbabu melalui jalur Selo di Boyolali. Ada yang spesial dalam pendakian ini, saya ikut sertakan pasangan saya sebagai partner yang notabene baru pertama kali naik gunung. Ya sekaligus olahraga juga sih buat dia biar perutnya gak semakin maju (baca: buncit). Rencana kali ini bisa dibilang dadakan, sore persiapan dan malemnya langsung berangkat. Setelah persiapan selesai, berangkatlah kami berempat bersama dengan dua teman saya yang lainnya menyusuri jalanan yang berkelok-kelok dan gelap.

Tim Mendaki

Singkat cerita, kami sampai di basecamp Selo, meskipun sempet nyasar juga karena lupa jalan. Konon kata orang-orang, mendaki Merbabu lebih enak kalo lewat jalur pendakian di Selo ini. Katanya sih pemandangannya lebih indah dan medannya lebih landai tapi memakan waktu agak lebih lama karena jalurnya lebih memutar. Tapi pada kenyataannya setelah sampai disana, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Memang sih di awal-awal, medannya banyak yang landai dan cukup untuk pemanasan. Tapi lama-kelamaan medan semakin berat. Karena pendakian dilakukan malam hari, saya tidak terlalu keliatan persis medannya kayak apa. Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan banyak rombongan lain, bisa jadi karena malam minggu sehingga banyak yang melakukan pendakian.

Untuk mencapai puncak melalui jalur Selo, kami harus melewati 4 pos terlebih dahulu. Untuk tempat nge-camp, banyak dataran yang cukup luas yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Setelah berjalan selama hampir 6 jam, kami sampai di Sabana 1 dan kami mendirikan tenda disana untuk beristirahat serta menikmati sunrise.

Detik-detik menjelang sunrise

Penampakan sunrise

Banyak sekali yang nge-camp disini dan kebetulan ada banyak tenda kembar yang berjejer-jejer termasuk tenda kami, seperti tenda anak-anak diksar (pendidikan dasar)  saja.

Tenda - tenda yang ngecamp. Rame kan?

Saya heran kenapa orang-orang bisa tidur di udara dingin, kecuali saya. Saya tidak bisa tidur dalam keadaan dingin meskipun sleeping bag dan baju hangat sudah dipakai. Jadilah saya setiap naik ke gunung tidak pernah tidur, meskipun teman-teman yang lain bisa tidur dengan nyenyak. Kadang iri juga sama mereka kenapa bisa banget tidur sedangkan temannya yang satu ini berusaha mati-matian buat terlelap tapi selalu gagal. But nothing, saya menikmatinya karena bagi saya ini merupakan salah satu sensasi saat naik gunung yang tidak terjadi setiap hari.

Langit pagi di Merbabu

Sembari menunggu tiga orang yang sedang terlelap, saya tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan menuju sabana 2 dan puncak tentunya. Akhirnya saya ganggu saja mereka dan segera membangunkannya. Tapi sayang sekali, dua orang teman saya tidak mau melanjutkan dan memilih untuk menunggu di tenda. Sedangkan partner saya, katanya sudah merasa capek dan putus asa untuk ke atas karena masih capek. Namun dengan sedikit bujuk rayu dan paksaan akhirnya dia mau untuk  menemani saya melanjutkan perjalanan.

Pemandangan dari Pos IV. Merapi tertutup kabut.

Ada dua bukit yang terlihat oleh mata untuk bisa sampai ke puncak. Kelihatannya sih bukit-bukit itu bisa untuk dilalui dengan mudah tetapi begitu kita mencobanya, tetap sama saja, hanya ada tanah yang kadang licin, kadang gembur, dan medan tanjakan yang curam. Sepanjang perjalanan saya mencoba untuk menyemangati partner saya tetapi tampaknya tidak berhasil. Kami berhenti di tengah jalan karena partner saya sudah menyerah sebelum berhasil melewati bukit pertama. Atau kalimat lainnya, kami tidak sampai di sabana 2. Sayang sekali padahal pemandangan sabana 2 yang paling bagus. Saya sih gak masalah soalnya sudah pernah menginjakkan kaki sampai di atas puncak Merbabu. Tapi bagaimana lagi, kesehatan lebih penting untuk diutamakan. Akhirnya kami memutuskan putar balik dan turun kembali ke tenda. Dan sebelum sore kembali datang, kami berkemas untuk persiapan turun ke basecamp.

Medan terjal pendakian jalur Selo

Kesan saya untuk pendakian kali ini adalah, Selo lebih kejam dari ibu tiri, hehehe.

POS IV : SABANA I

No comments:

Post a Comment