Sunday, November 23, 2014

JURUG...OH JURUG...


Siapa yang tidak suka dengan kebun binatang atau taman satwa. Wahana wisata ini bisa dijadikan hiburan sekaligus edukasi bagi kita khususnya untuk anak-anak. Apalagi jika lokasinya itu berada di tempat yang strategis dan kental dengan nuansa alam. Tentu sangat menyenangkan bukan? Kali ini kami mengunjungi taman satwa Jurug di pinggir kota Solo. Taman satwa ini terletak tepat di sebelah kampus UNS dan juga di sisi sungai Bengawan Solo. Karena letaknya di pinggiran kota maka taman satwa ini berdekatan dengan perbatasan Kabupaten Karanganyar dan letaknya yang berada di pinggir jalan jalur lintas Jawa Tengah dan Jawa Timur, membuat pengunjung tidak akan sulit untuk menemukannya.

Cukup murah untuk menikmati taman satwa ini karena tiket masuk hanya Rp 8.000,00 untuk hari biasa dan Rp 10.000,00 untuk hari libur. Akan tetapi jangan kaget jika sudah memasuki kawasan taman ini. Menurut kami, pengelolaan taman satwa ini kurang begitu diperhatikan. Hal itu bisa dibuktikan dengan banyaknya sampah yang dibiarkan begitu saja berserakan di area taman dan kurang efisiennya penempatan kandang-kandang satwa yang ada.

Rumah (kandang) Gajah

Satwa yang bisa dijumpai pertama kali setelah melewati pintu masuk adalah gajah. Pada saat kami kesana, ada 3 gajah yang sedang berada di kandang. Tetapi, ada hal aneh yang memunculkan pertanyaan di benak kami. Gajah-gajah tersebut seperti ingin bergerak namun mereka hanya bisa bergerak di tempat dan terdengar suara seperti benturan atau bantingan. Setelah dilihat lebih teliti, ternyata ketiga gajah tersebut kakinya dirantai.

Kaki-kaki gajah yang dirantai

Kenapa kakinya dirantai? Padahal kandangnya begitu luas. Atau karena gajah tersebut untuk dinaiki pengunjung berkeliling taman satwa ini? Tapi tetap saja itu sangat mengganggu karena dengan tempat (kandang) yang begitu luas, mereka hanya bisa berdiam di satu tempat. Bagaimana kalau hal tersebut terjadi pada Anda?

Lanjut berjalan menyusuri area taman tepat di sisi sungai Bengawan Solo yang panjang membentang, terdapat Taman Gesang.

Taman Gesang

Nama Gesang diambil dari nama seorang penyanyi Jawa legendaris yang menciptakan lagu Bengawan Solo. Taman ini dibuat atas jasa baik perhimpunan dana Gesang di Jepang. Di dalam taman ini juga terdapat pesawat kecil peninggalan Jepang, namun sayang sekali sepertinya kurang terawat.

Pesawat kecil yang berada di dalam Taman Gesang

Kawasan ini pun sangat kotor sekali, banyak sampah menumpuk di pinggir sungai. Kalau saja taman ini terawat dan bersih, taman ini merupakan taman yang sangat nyaman untuk bersantai sambil melihat aliran sungai Bengawan Solo.

Pemandangan Sungai Bengawan Solo dari Taman Gesang

Taman Jurug memiliki cukup banyak satwa yang terdiri dari bermacam-macam jenis satwa mulai dari reptil, burung, harimau, orang utan, monyet, kanguru, onta, banteng, kuda, rusa, dan lain-lain.




Namun lagi-lagi yang sangat disayangkan adalah masalah kebersihan. Kebersihan kandang bagi binatang-binatang tersebut juga penting untuk diperhatikan selayaknya seperti manusia. Seperti pembersihan kandang secara rutin, penggantian air secara berkala, dan makanan yang layak. Layak disini dalam artian jangan sampai makanan itu membusuk di dalam kandang binatang sehingga bisa menimbulkan kerumunan lalat dan bau yang tak sedap. Selain mengganggu kenyamanan dan kesehatan binatang juga mengganggu pengunjung.

Kondisi rumah (kandang) Linsang yang banyak lalat bahkan terutama di makanannya

Kondisi rumah (kandang) Landak

Kondisi makanan di rumah (kandang) burung Kasuari
Manajemen penataan penempatan binatang juga masih dibilang kurang rapi dan efisien. Contohnya seperti penempatan burung merak. Kami menjumpai banyak titik kandang burung merak dimana tiap kandang hanya diiisi oleh satu burung saja, padahal ukuran kandang itu luas dan kami kira bisa ditempati 2-3 burung. Bentuk kandang dan kondisi kandang yang tidak baik juga membuat kami gemas karena dengan kondisi kandang yang menurut kami kurang layak bagaimana mereka bisa nyaman di dalam sana.

Kondisi salah satu rumah (kandang) Buaya

Kondisi tempat karantina satwa (di dalam kandang terdapat satwa Babun)

Kondisi tempat karantina satwa (di dalam kandang - kandang terdapat satwa Babun)

Sudah tidak bebas, tidak nyaman pula. Bukankah yang namanya taman satwa atau kebun binatang itu harusnya mengutamakan kenyamanan satwa yang ada di dalamnya?

Selain itu banyaknya warung kaki lima di sepanjang jalan di dalam taman satwa, memperparah kondisi kebersihan di tempat ini. Warung-warung kaki lima ini berada di hampir sepanjang jalan pintu masuk hingga pusat taman satwa, mulai dari berjualan makanan dan minuman sampai berjualan souvenir. Tidak hanya di dalam, bahkan di area parkir pun juga banyak. Kenapa orang-orang yang berjualan tidak ditempatkan di satu titik dan dibatasi jumlahnya sehingga tidak menimbulkan banyak sampah.

Banyaknya sampah hingga masuk ke dalam bagian rumah (kandang) satwa

Kondisi ticket box untuk menunggangi Unta

Petugas taman satwa pun dengan banyaknya sampah bertebaran tidak melakukan apa-apa. Atau mungkin sedang bukan jadwal pembersihan. Pada saat kami mengelilingi taman satwa, ada beberapa petugas yang sedang melakukan renovasi dan memberi makan untuk satwa-satwa tapi ada juga yang hanya duduk-duduk di gudang (seperti berbentuk rumah) tempat penyimpanan peralatan dan makanan satwa.

Danau kecil di dalam Taman Satwa Jurug
Terlepas dari itu, pengunjung bisa memancing ikan di danau kecil yang berada di tengah-tengah taman. Dan yang membuat taman satwa ini hidup adalah banyaknya pepohonan rindang yang membuat suasana seperti berada di tengah hutan. Kami yakin jika taman ini dikelola dengan lebih baik lagi pasti akan sangat menyenangkan. Pengunjung pun akan lebih merasa nyaman dengan kondisi taman yang bersih dan sejuk, tak terkecuali binatang-binatang penghuni taman.

Save your environment!

video

No comments:

Post a Comment