Friday, August 22, 2014

KEJUTAN SI KEMBAR SUMBING


Menjelang sunrise di pos Pestan

Gunung Sumbing, salah satu gunung di Jawa Tengah yg terletak diantara kabupaten Temanggung dan Wonosobo. Gunung yang terkenal dengan sebutan gunung kembar dengan Gunung Sindoro ini memiliki ketinggian yang lebih tinggi dibandingkan dengan kembarannya yaitu 3371 mdpl. Sekilas kedua gunung tersebut tampak terlihat sama karena letak mereka yang berhadap-hadapan.

Untuk mendaki Sumbing, bisa dilalui melalui jalur Garung di kabupaten Wonosobo. Jalur ini merupakan jalur yang lazim dilalui oleh para pendaki. Selain letaknya yang strategis dan dekat dengan jalan raya Temanggung-Wonosobo ini, basecamp-nya pun sangat mudah ditemui. Baru berjalan 5 menit saja, kita sudah menemukan basecamp tersebut. Jika melakukan pendakian melalui jalur ini, akan dua opsi pilihan untuk sampai ke puncak yaitu melalui jalur lama atau jalur baru. Namun disarankan agar para pendaki melewati jalur baru saja karena lebih aman dan banyak petunjuknya.

Pada pendakian kali ini, saya sedikit mendapat kejutan, ternyata pendakian ditutup untuk sementara. Kata penjaga basecamp Sumbing, kemungkinan diperbolehkan mendaki pada esok hari. Namun, rombongan kami akhirnya bernegosiasi dengan penjaga basecamp untuk mendaki malam itu juga. Iya, saya biasa melakukan perjalanan mendaki di malam hari. Setelah bernegoisasi akhirnya kami diperbolehkan untuk naik. Satu-satunya rombongan yang naik ke gunung pada malam itu. Tidak ada rombongan lain yang akan naik maupun yang ada di atas.

Sepanjang perjalanan malam itu, kami ditemani oleh bulan yang bersinar cerah sehingga tidak begitu sulit untuk melakukan pendakian karena cahaya bulan cukup untuk menerangi langkah perjalanan kami. Medan pendakian kali ini pun bisa dibilang cukup berat karena berupa tanah, batu-batuan, dan terjal. Bonus tanah datar sangat sedikit. Di tengah perjalanan, kami kembali mendapatkan kejutan. Salah satu teman saya melihat "mbak" berbaju putih sedang duduk di belakangnya pada saat kami beristirahat. Sedangkan teman yang lainnya mendengar teriakan panggilan khas pendaki dari arah jurang. Padahal tidak ada rombongan lain selain kami. Hati-hati ya buat kalian yang punya planning naik Sumbing, hehehe.

Singkat cerita, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Sumbing dengan melalui medan yang sangat berat, menurut saya. Setelah 6 jam berjalan, kami mendirikan tenda di kawasan Pestan yang cukup banyak tanah datarnya. Sedangkan untuk sampai ke puncak masih membutuhkan waktu 3-4 jam dan terlebih dahulu harus melewati pos Watu Kotak dan Tanah Putih. Di antara kedua kawasan tersebut, kita akan menjumpai bunga Edelweis tumbuh disini.

Edelweis


Oh iya, setelah melewati Watu Kotak, jangan sampai terkecoh naik ke atas puncak buntu karena puncak sebenarnya berada di baliknya. Oleh karena itu, pendaki diharuskan untuk sedikit melakukan panjat tebing, eh bukan, panjat batu melalui jalan setapak kecil yang berada di sebelah kiri.

Medan menuju puncak di kawasan bawah Tanah Putih

Setelah melewati Tanah Putih, akan dijumpai dua arah panah yang bertuliskan puncak, satu ke atas dan satunya lagi ke arah kanan. Kali ini saya yang mendapatkan kejutan, terpisah dari teman-teman lain. Saya mengikuti arah panah kanan sedangkan teman-teman saya ke arah atas. Ada yang “mengarahkan” saya untuk mengambil jalur ini, hehehe. Rasanya mengerikan jika dibayangkan dengan akal sehat berada dalam kondisi seperti yang saya alami saat itu. Kabut, jalan sempit, pinggir jurang, sendiri, dan nekat. Pada akhirnya gerimislah yang menyadarkan saya. Pantesan saja saya hilang ternyata jalur yang saya ambil tersebut merupakan jalur menuju puncak kawah. Agak membingungkan memang. Untung saya masih dipertemukan dengan mereka setelah saya memutuskan untuk berbalik arah. Saran, lebih baik pilih jalur yang langsung ke atas saja seperti yang diambil teman-teman saya.

Puncak Kawah Sumbing

Puncak Sumbing terlihat menarik karena memiliki kawah yang sangat luas, bisa buat main bola kayaknya, hehe. Bisa turun ke kawah juga lho tapi kami belum berkesempatan untuk turun kesana. Setelah menikmati kawasan puncak, kami bergegas turun karena faktor cuaca yang kurang mendukung sedari pagi tadi. 

Perjalanan turun gunung kami pun dilakukan pada saat matahari mulai terbenam. Untuk yang pertama kalinya, saya turun gunung di malam hari dan kami kehujanan di sepanjang perjalanan turun ke bawah. Untungnya kami sempat bertemu dengan rombongan pendaki lain yang mau naik dan kami ditawari minuman hangat. Lumayan untuk menghangatkan perut. Gak lagi-lagi deh turun gunung malam hari.

Hati senang ketika kami sudah melewati “gerbang” gunung Sumbing (baca:jembatan) dan menemukan cahaya lampu rumah penduduk. Terima kasih Tuhan yang Maha segalanya. Total waktu pendakian adalah 10 jam naik dan 6 jam untuk turun. Medan pendakianmu sangat istimewa, Sumbing. Sumbing memang keren, meskipun mistisnya sedikit terasa.

No comments:

Post a Comment