Sunday, August 31, 2014

ISTIMEWANYA GUNUNG LAWU


Tugu Triangulasi Puncak Hargo Dumilah

Lawu, gunung di bagian timur Jawa Tengah ini merupakan salah satu gunung yang ramai dikunjungi. Tidak hanya oleh para pendaki tetapi juga para peziarah. Gunung yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur ini sering digunakan untuk melakukan ritual. Entah ritual apa saya juga tidak paham. Di lereng gunung ini, terdapat obyek wisata air terjun Grojogan Sewu atau yang lebih terkenal dengan sebutan Tawangmangu.

Di akhir tahun 2013 kemarin, saya berkesempatan untuk melakukan pendakian ke Gunung Lawu. Ada yang istimewa dari pendakian saya kali ini. Saya menyebutnya dengan edisi Woman Series. Iya, karena saya hanya mendaki berdua dengan teman saya, perempuan juga meskipun di tengah perjalanan nantinya kami mendapat teman-teman baru. Ada dua jalur pendakian yang lazim dilalui untuk mencapai puncak Gunung Lawu yaitu Cemoro Kandang di Karanganyar dan Cemoro Sewu di Magetan. Meskipun berada di kabupaten yang berbeda, tetapi jarak kedua basecamp ini sangat dekat, kira-kira hanya satu kilometer. Sedangkan jalur lain bisa dilalui melalui Candi Cetho.

Woman Series

Kami memutuskan untuk mendaki melalui jalur Cemoro Sewu karena medan yang dilalui nantinya tidak terlalu berat dan sudah tertata karena adanya anak-anak tangga sehingga meminimalisir kami agar tidak kehilangan arah. Eits, tapi tunggu dulu, anak tangga yang dimaksud disini adalah yang terbuat dari bebatuan yang disusun sedemikian rupa sehingga menyerupai anak tangga. Jadi, medan khas gunung yang terjal akan tetap dijumpai. Lawu sangat cocok untuk pendaki pemula. Dikarenakan kami berdua perempuan semua, apalagi ditambah teman saya baru pertama kali naik gunung, jadi kami naik saat matahari menampakkan dirinya alias siang hari. Sebelum memulai perjalanan, kami berdua bertemu dengan rombongan lain yang kebetulan berasal juga dari Jogja.

Medan Cemoro Sewu yang berbentuk anak-anak tangga

Perjalanan dimulai pada pagi hari. Saat perjalanan menuju pos 1, di tengah-tengah perjalanan hujan turun, akhirnya saya dan teman saya istirahat terlebih dahulu menunggu hujan reda. Disini kami kembali bertemu dengan rombongan dari Jogja tersebut yang akhirnya kami sepakat untuk ikut bergabung dari naik sampai kembali turun nanti. Kami berdua dapet temen-temen baru. Oh iya, di dekat pos 1 ini, saya menemukan warung-warung yang berjejer. Tapi sayang sekali, pada saat saya sampai disini, warungnya sedang tidak buka. Lawu memang terkenal keistimewaannya karena banyak warung yang ada di gunung tersebut. Tidak hanya di pinggir jalur pendakian saja bahkan di puncak nantinya juga ada warung yang sudah sangat terkenal yaitu warung Mbok Yem. Tapi jangan kaget kalau harga mi rebus dan es teh satu porsi bisa mencapai Rp12.000. Jika beruntung, pada saat pagi hari di tengah jalan bisa ditemui ibu-ibu yang menjajakan sarapan nasi bungkus. Kebayang gak sih bagaimana mereka membawa barang dagangannya dengan jalan khas gunung yang menanjak? Hmm, kuat juga ya mereka. Keren.

Lawu memiliki 5 pos pendakian. Pos 1 sampai 3 berbentuk bangunan seperti gardu. Di antara pos 1 dan 2 terdapat batu-batu dengan ukuran besar berdiri di tengah jalan. Jadi, para pendaki harus berhati-hati karena harus melewati batu tersebut sedangkan di sisi samping merupakan jurang.

Pos 4

Memasuki kawasan menuju pos 4 dan 5, medan semakin terjal karena tangga yang disusun jaraknya tinggi-tinggi. Di pos 5 yang berupa tanah datar yang cukup luas, pendaki bisa mendirikan tenda. Tetapi harus waspada karena angin berhembus kencang. Jika cuaca cerah, dari pos ini bisa dilihat pemandangan kota. Namun lagi-lagi sayang, cuaca sedang tidak cerah pada saat saya disitu.

Selepas pos 5, track bonus membuat hati senang. Finally, saya sampai di warung yang akan dijadikan sebagai tempat bermalam. Meskipun menginap di warung, saya tetap membawa tenda agar tetap safety. Di dekat warung terdapat sumber mata air yang dikenal dengan sebutan Sendang Drajat. Para pendaki bisa mengambil bekal air minum disini.

Keesokan harinya, baru saya naik menuju puncak Hargo Dumilah di ketinggian 3267 mdpl. Puncak ini ditandai dengan adanya bangunan Tugu Triangulasi. Sejenak saya baru menyadari jika ternyata pada hari itu bertepatan pada tanggal 22 Desember. Iya, hari Ibu dan woman series pula.

Puncak Hargo Dumilah

Puas berfoto-foto, saya bergegas untuk turun. Sepanjang perjalanan turun, lagi-lagi hujan turun sehingga mau tidak mau membuat saya memakai jas hujan. Lawu banyak istimewanya bukan?

2 comments:

  1. He he hee memang ga enak kena badai digunung...soal-e aq berulang kali aq mengalaminya.
    Utk itu aq punya sedikit tips neh buat mbak yg suka naik gunung..coba buka blogq ini...
    http://negeriangin-kazeyuki.blogspot.com/2011/11/bagaimana-kita-ketika-di-gunung-seorang.html?m=1

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah setuju sekali mas, "mendaki gunung menjadi agenda wajib yang harus dilakukan minimal 1 tahun sekali" apalagi kalo udah kerja harus benar-benar memanfaatkan keberadaan tanggal merah. btw, tulisannya membantu sekali, terima kasih :D

      Delete