Friday, July 18, 2014

SEDIKIT CERITA DI KERETA

16/05/2014

Senja itu di dalam kereta Sriwedari non AC (Jogja – Solo), ada satu keluarga yang terdiri dari seorang bapak, ibu, dan anak laki-laki. Usia bapak dan ibu tersebut tua paruh baya sedangkan anak laki-lakinya masih kecil kira-kira seumuran anak SD. Beberapa tingkah laku mereka menarik perhatian saya selama perjalanan dari Jogja sampai Solo. Saat itu suasana di dalam kereta non-AC tersebut sangat panas dan gerah. Ditambah banyaknya penumpang membuat para penumpang banyak yang kepanasan, terutama yang jauh dari jendela. Sekilas mata melihat keringat bercucuran di wajah mereka, tak terkecuali saya. Apalagi memang akhir-akhir ini cuaca di daerah Solo-Jogja memang sedang tak bersahabat panasnya.

Kejadian pertama yang menarik perhatian saya adalah saat si ibu tiba-tiba mengeluarkan minyak wangi di dalam botol kecil dengan aroma melati. Minyak wangi tersebut kemudian dipakaikan pada si bapak. Tetapi respon yang tak terduga muncul dari si bapak tersebut. Si bapak sedikit ngomel seperti tidak suka dengan maksud baik dari si ibu, ditambah dengan anaknya yang juga ikut-ikutan ngomelin si ibu.

Ngambu-ngambuni”, begitu kata si anak.

Kemudian si ibu dengan muka sedih dan kecewa karena niat baiknya tidak dihargai, berusaha membela dirinya dengan berkata, “wangi, wangi yo” dengan suara merendah kemudian diam.

Saya yang sedari tadi mengamati disebelahnya saja malah pengen pakai parfum karena didalam gerbong tersebut memang hampir seperti di sauna, keringat bercucuran dan pasti bikin badan bau. Wewangian itu tentu saja sangat berguna agar badan tidak bau sehingga tidak mengganggu penumpang lainnya.

Kejadian selanjutnya, masih tentang perilaku bapak dan anak tersebut. Yang namanya anak kecil tentu saja tidak bisa diam apalagi jika berada dalam gerbong yang panas. Si anak berdiri di tempat duduk  dan melihat keluar sehingga kepalanya terkena hembusan angin dari jendela kereta yang kecil. Si anak tentu merasa senang karena dia merasa tidak terlalu gerah lagi namun rupanya si bapak tidak mau kalah dengan anaknya. Si bapak berdiri dari tempat duduknya, sambil berdiri kemudian dia menaruh kepalanya di tepi jendela sambil melihat dan ngobrol bersama anaknya tentang apa yang ada diluar jendela tersebut. Like father like son. Sementara saya yang tidak duduk dibawah jendela, dari tadi mencoba berkonsentrasi untuk bertahan dari “sauna” di dalam gerbong kereta ini. Tiba-tiba saya mendengar percakapan antara bapak dan anak yang cukup aneh.

(Si anak memang mengunakan jam tangan yang besar jika dibandingkan dengan ukuran pergelangan tangannya)

Anak   : “Pak, jam tangannya dicopot dulu boleh? Panas”
Bapak  : “Ngapain? Tak potol tanganmu nanti”, dengan nada kesal.

Dalam otak saya, buset ini bapak ngomong seenaknya saja sama anaknya sendiri yang masih kecil. Ya gak heran sih kalo anaknya ngomongnya juga seenaknya sama orang tuanya, bahkan mungkin kepada orang lain. Kemudian si bapak dan si anak kembali duduk ditempatnya.

Seperti itukah perilaku keluarga di Indonesia? Apakah pantas seorang bapak mengajari anaknya dengan perkataan-perkataan yang menurut saya kurang enak didengar. Dari kejadian pertama dan kedua tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa peran seorang kepala keluarga memang berpengaruh pada kehidupan berkeluarga. Jika keras, maka keluarga akan menjadi pribadi yang keras pula meskipun akan ada salah satu dari anggota keluarga yang menjadi “pengalah” seperti si ibu tersebut. Akan tetapi, jika lembut, saya yakin sebuah keluarga akan menjadi keluarga yang asik dilihat bahkan mungkin dicontoh. Tidak seharusnya si bapak berkata seperti itu apalagi di tempat umum yang bisa dilihat dan didengar orang lain. But, the attitude is choice.

Tak berapa lama kemudian, akhirnya sampai juga di stasiun Purwosari, Solo. Setelah penantian penuh usaha bertahan dari jeratan panasnya hawa dalam gerbong kereta yang selama 1 jam 15 menit jadi berasa berjam-jam karena di otak isinya pengen cepet-cepet sampai, keluar dari kereta, dan menghirup udara segar.

Itulah sedikit cerita saya dari dalam kereta. Semoga dari cerita ini kita menyadari bahwa banyak macam perilaku manusia disekitar kita yang mungkin tidak bisa kita terima sendiri karena diluar akal atau pengetahuan kita. Bagaimanapun perilaku orang lain, kita ambil saja sisi baik atau hikmahnya dari berbagai perilaku manusia di sekitar kita agar kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

No comments:

Post a Comment