Wednesday, July 2, 2014

HIJAUNYA BUKIT MERBABU


Bukit-bukit Merbabu

Merbabu, gunung di Jawa Tengah yang memiliki ketinggian 3142 mdpl bisa dibilang sebagai gunung yang paling ramah bagi para pendaki. Suasana alam yang masih hijau segar dan jalur pendakian yang tergolong tidak terlalu ekstrem sangat cocok bagi pendaki pemula. Sejauh mata memandang sabana hijau terbentang luas membuat perjalanan pendakian menjadi semakin asik.

Sore itu, di bulan Juni 2013, saya dan teman-teman naik Merbabu lewat jalur Wekas. Kalo dari arah Jogja ambil saja jalan yang menuju arah Kopeng lalu ikuti jalannya. Cukup menempuh 2 jam perjalanan dengan jalan yang selalu menanjak tentunya. Oh iya, tips nih kalo mau naik lewat jalur ini, jangan pake motor yang berjenis matic atau bergigi biasa ya. Soalnya bakalan susah nanjaknya. Medannya curam sekali. Kalau beruntung bisa mogok tuh motor saking gak kuatnya. Akhirnya dorong motor deh, hahaha. Kalo bisa bawa motor yang ada koplingnya. Kalo gak punya gimana? Ya pinjem motor temen dulu aja. Terus kalo gak bisa pake motor kopling? Ya itu derita kalian.

Begitu sampai di basecamp jangan lupa registrasi diri dulu ya, selain memang prosedurnya juga buat jaga-jaga kalo semisal ada apa-apa. Jangan mau jadi pendaki yang ilegal. Untuk pendakian kali ini, saya membawa peralatan mendaki lengkap, gak seperti pas naik ke Merapi yang cuma bawa tas isi jaket sama makanan doang, hehe. Menurut saya, pendakian memang enak dilakukan pada malam hari. Memang gelap sih, tapi lebih gak kerasa waktu jalan naiknya. Dari basecamp sampai ke puncak, normalnya menghabiskan waktu selama 7-8 jam. 4 jam untuk sampai di pos 2 yang biasa digunakan untuk lokasi camp karena berbentuk dataran yang cukup luas. Di pos ini terdapat mata air, jadi gak usah khawatir kalo kehabisan air. Kita bisa ambil dari sini. Tenda dan barang-barang pun juga aman kalo mau ditinggal buat summit attack. Kalo lagi beruntung, kita bisa menjumpai beberapa sekawanan kera yang berkeliaran di sekitar pos 2 ini.

Pos 2 jalur Wekas

Memasuki kawasan jembatan setan, pendaki harus ekstra berhati-hati karena disini hanya terdapat jalan setapak kecil yang hanya muat untuk dilalui satu orang saja. Jurang yang menganga lebar bisa dilihat jika menoleh ke kiri dan kanan sewaktu melintas. Pada saat saya melintas di jembatan setan ini, saya hanya diterangi oleh cahaya lampu senter yang saya bawa. Gak kebayang kan kalo misal tiba-tiba lampu senternya batrenya habis?!

Mendekati kawasan puncak, ada dua persimpangan jalan untuk menuju puncak yang diinginkan. Memang di Merbabu ini sangat istimewa karena puncaknya gak cuma ada satu, tapi ada tujuh puncak! Tapi puncak yang sering dijamah oleh pendaki yaitu puncak Syarif dan puncak Kenteng Songo. Pada waktu itu, rombongan saya memutuskan untuk pergi ke puncak Syarif saja yang hanya bisa ditempuh dalam waktu 10 menit dari persimpangan tersebut. Akhirnya, saya dan teman-teman mengambil jalan ke arah kiri dan welcome to the top of Mt. Merbabu!

Sunrise di puncak Syarif

Pesan saya, pastikan estimasi perjalanan ke puncak ini tepat pada waktnya. Artinya jika ingin mendapatkan sunrise maka datanglah ke puncak 5 menit sebelum matahari menampakkan dirinya karena jika terlalu lama menunggu kalian akan merasakan hembusan angin pagi gunung yang amat sangat super dingin sekali! Saya aja gak betah sama anginnya karena kecepetan sampai di puncak sebelum mataharinya nongol. Lebih baik terlambat gak dapet sunrise-nya deh daripada harus kepagian menunggu sunrise tapi badan jadi menggigil. Dari atas puncak Syarif ini, terlihat Merapi, Sindoro, Sumbing, dan Lawu serta gunung-gunung kecil lainnya sedang berdiri saling menyapa. What a beautiful view it is!

Selamat datang di puncak Merbabu

Setelah puas menikmati suasana puncak, perjalanan turun pun memanggil-manggil untuk segera dilalui. Saya baru menyadari kalo ternyata medan yang saya tempuh cukup curam juga ya. Dan yang paling menakjubkan adalah saya melihat taman edelweis! Flora yang sangat dilindungi ini, tumbuh bergerombol di kanan dan kiri saya. Pantesan dilindungi banget, selain termasuk tanaman langka, bunga edelweis juga disebut sebagai bunga abadi yang gak bakal layu. Eits, jangan coba-coba ngambil bunga ini ya. Kalo ketauan bakal disuruh ngembaliin ke tempatnya. Bayangin aja kalo ketauannya udah sampai basecamp, disuruh naik lagi deh. Saya sih ogah!

No comments:

Post a Comment